Wednesday, January 9, 2013

What Bible Said About Love?


Sebuah kata "love" atau "cinta" selalu memberikan segudang pertanyaan. Dan terkadang kitapun nggak bisa menjawabnya. Nah sebagai orang Kristen, sudah seharusnya kita mencoba mencari jawaban tersebut dari Alkitab. Yuk lihat apa kata Alkitab tentang cinta.



Q: Tuhan, kenapa ya aku jomblo terus? Kapan nih aku punya pacar? Kenapa kayaknya aku belum bertemu dengan orang yang bener-bener pas?
A: Pengkotbah 3:1 "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." Pengkotbah 3:11, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."

Tuhan sendiri bilang, segala sesuatu ada waktunya dan Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya yang telah Ia tetapkan. Nggak usah bimbang, nggak usah galau. Semua ada waktu-Nya! Just wait and see!




Q: Kalo orang Kristen cuma boleh pacaran sama yang Kristen juga? Kenapa?

A: 2 Korintus 6:14, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah yang terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Kalo pasangan kita beda agama, ada kemungkinan dasar-dasar/pedoman yang dianut juga berbeda, atau memiliki penekanan pada hal-hal yang berbeda.



Q: Tuhan. Apakah aku benar-benar menyayanginya dengan sepenuh hati? Bagaimana cara mengetahuinya?
A: Check it out guys by answering these questions
Apakah kalian sabar satu sama lain? Apakah kalian baik terhadap satu sama lain? Apakah kalian tidak saling cemburuan? Apakah kalian tidak pernah menyombongkan baik diri sendiri maupun sang pasangan? Apakah ada kerendah-hatian dalam hubungan kalian? Apa kalian memperlakukan satu sama lain dengan penuh kasih? Apa kalian tidak saling mementingkan diri sendiri? Apa kalian tidak mudah marah terhadap satu sama lain? Apa kalian tidak pernah mengingat-ingat kesalahan sang pasangan di masa lalu? Jujurkah kalian satu sama lain? Apa kalian saling melindungi? Apa kalian saling mempercayai?

Kalau jawabanmu "Ya" untuk semua pertanyaan diatas, artinya 1 Korintus 13:4-7, seperti Firman Tuhan berkata, kalian sungguh saling mengasihi satu sama lain. Kalau ada jawabanmu yang "Tidak" atas pertanyaan-pertanyaan diatas, artinya mungkin kalian harus mendiskusikan hal-hal di atas dengan pacarmu.

1 Korintus 13:4-7 "Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."


Q: Apa sih yang penting dari sebuah hubungan?
A: Amos 3:3 "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?"
Di ayat ini jelas dikatakan bahwa sebuah hubungan harus dijalani dengan adanya komitmen. Baik pacaran, persahabatan, apalagi pernikahan. Tanpa adanya komitmen dari kedua belah pihak, maka semuanya bisa berantakan.



Q: Cewek atau cowok mana sih yang "BIG NO NO" di mata Tuhan?
A: Amsal 2:16-19 "Supaya engkau terlepas dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya, yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya; sesungguhnya rumahnya hilang tenggelam ke dalam maut, jalannya menuju ke arwah-arwah. Segala orang yang datang kepadanya tidak balik kembali, dan tidak mencapai jalan kehidupan."
Nah! Kalau cewek atau cowok yang nggak bener sih itu udah sama sekali ga di-recommended sama Tuhan. Di ayat itu udah jelas banget dibilang. Orang yang datang kepadanya akan pergi dan tidak akan kembali ke jalan kehidupan (kebenaran).



Akhirnya, aku harap semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin mampir di pikiran kita sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan. Hope it will be useful. Dan semoga kita bisa mencintai orang lain dengan lebih baik lagi. GBU :)




Sumber: Shinning Star April 2012

Tuesday, November 20, 2012

Analytical Expostion: Stop Global Warming

Thesis: Global warming is not a strange topic for people in this world. People do the best way to stop global warming. And I personally think agree with all way which they do. Why do I say that? Planet save wrote an article about global warming causes.

Arguments 1: First, carbon dioxide emissions from burning gasoline for transportation. Our modern car culture and appetite for globally sourced goods is responsible for about 33% of emissions in the U.S.

Arguments 2: Second, deforestation, especially tropical forests for wood, pulp, farmland. The use of forest for fuel (both wood and for charcoal) is one cause of deforestation. Forest remove and store carbon dioxide from the atmosphere, and this deforestation releases large amounts of carbon, as well as reducing the amount of carbon capture on the planet.

Reiteration: It can be concluded that everybody must change their way of life to stop global warming. slow but sure, it will be success if we are doing something to stop global warming together. Let's stop global warming for next generation.


Saturday, September 22, 2012

Persembahan

Bahan bacaan: Matius 6:1-4, Markus 12:41-44


MAKNA PERSEMBAHAN SECARA TEOLOGIS:

1. Tanda syukur dan tanda terima kasih.
Dengan memberi persembahan, kita mengaku bahwa kita sudah menerima (banyak) dari Tuhan. Sebagian kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda syukur atau ucapan terimakasih. Sebab itu kita memberikannya dengan penuh sukacita dan ikhlas! Persembahan sebab itu adalah respons atau jawaban orang beriman terhadap kasih dan berkat Allah yang begitu besar kepadanya. Persembahan adalah respon dan bukan syarat supaya mendapatkan berkat Allah! Persembahan bukanlah stimulans untuk merangsang kebajikan Allah namun reaksi atas kebajikan Allah. Persembahan juga bukan upeti yang dituntut Allah, namun persembahan merupakan ucapan syukur manusia yang menerima berlimpah berkat.

2. Tanda kasih dan kemurahan hati.
Yesus Kristus sudah memberikan diriNya kepada kita, menderita dan berkorban bagi kita. Sebab itu kita juga harus mau memberi, berbagi dan berkorban bagi sesama kita. Sebagaimana Kristus rela memecah-mecah tubuh dan mencurahkan darahNya untuk umat yang dikasihiNya, kita juga mau memecah-mecah roti dan berkat kehidupan untuk sesama kita. Ketika memberi persembahan kita sekaligus mau mengingatkan diri kita dan membaharui komitmen/janji kita untuk selalu memberi, berbagi dan berkorban sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus (I Yoh 3:16-18).

3. Tanda iman atau kepercayaan
Kita percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan sebab pemeliharaan Allah di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan, tidak saja sewaktu kaya namun juga saat miskin. (Flp 4:17-19, II Kor 9:8).


NILAI PERSEMBAHAN:

1. Ditentukan motivasi
Tuhan Yesus sangat menekankan motivasi dalam memberi persembahan. Bagi Yesus bukan jumlah nominalnya namun motivasi yang menggerakkan seseorang memberi persembahan itulah yang terpenting dan menentukan nilai persembahan itu (Matius 6:1-4). Sebab itu Yesus menganjurkan memberi persembahan secara tersembunyi untuk menguji kesungguhan dan ketulusan hati orang yang memberi. Orang yang memberikan persembahan untuk mendapatkan pujian dari sesama manusia sudah mendapatkan upahnya (dari manusia) dan karena itu tidak mendapatkan upah lagi dari Allah Bapa yang di sorga.

2. Tergantung prosentase berkat
Nilai persembahan juga harus diukur dengan memperbandingkannya dengan berkat Tuhan yang sudah diterima orang tersebut. Dengan kata lain, berapa persenkah berkat Tuhan yang dikembalikan orang tersebut sebagai persembahan. Persembahan janda miskin dalam Markus 12:41-44 dianggap lebih besar daripada persembahan orang-orang kaya bukan karena nominalnya memang lebih besar, namun karena persentasenya lebih besar dibandingkan dengan berkat materi yang diterima masing-masing. Persembahan karena itu haruslah juga menjadi tanda keadilan, dimana orang yang mendapat berkat Tuhan berlimpah harus memikul beban persembahan lebih berat supaya ada keseimbangan dan keadilan (lihat II Kor 8:13-15).


KRITERIA BAHWA PERSEMBAHAN ITU BUKAN YANG TERBAIK:


1. Persembahan itu merupakan sisa-sisa/kelebihan. Jangan kita jadikan Yesus seperti pengemis.

2. Barangnya rusak (uang kumal, uang robek, barang rongsokan, dsb.)

3. Motivasi supaya dapat untung (supaya masuk sorga, dipuji, dapat lebih dari yang kita beri/prinsip pedagang.)

4. Memberi karena terpaksa (takut masuk neraka)

5. Memberi barang-barang/uang tetapi tidak memberikan tubuh (tidak aktif dalam hal pelayanan)

6. Memberikan diri, tetapi tidak memberikan barang/uang.


KRITERIA BAHWA PERSEMBAHAN ITU DISEBUT YANG BAIK, JIKA:

1. Didasarkan atas pengucapan syukur, bahwa Tuhan dan hanya Tuhanlah yang senantiasa menjadi sumber berkat dan kasih karunia. Bahwa segala sesuatu yang kita miliki bukanlah hasil usaha/kehebatan kita, tetapi terutama pemberian Tuhan.

2. Kerelaan: Jika tidak rela, janganlah memberi. Itu tidaklah membawa berkat.

3. Persembahan sebagai ungkapan cinta kasih: Persembahan atau pemberian tanpa cinta tidak ada guna. Pemberian kecil dari orang-orang yang paling kita cintai jauh lebih berkesan daripada pemberian besar dari orang lain yang tidak disertai cinta kasih.

4. Persembahan sebagai suatu pengakuan iman: Allah itu kaya, bahkan maha karya! Ia minta yang terbaik, bukan karena Ia kekurangan. Tetapi supaya kita ingat, bahwa Dialah pemilik segala sesuatu. Allah pemilik diri anda, pemilik harta anda. Mempersembahkan yang terbaik bagi Allah merupakan suatu pengakuan iman, bahkan hanya ada satu yang terbaik, satu-satunya yang berharga dalam hidup kita. Itu bukanlah uang, harta, pangkat, jabatan, pacar, egoisme kita, tetapi Allah yang terbaik dalam hidup kita.







Sumber: bahan katekisasi tanggal 21 September 2012